Akhlak Rasulullah yang Memaafkan Orang yang Mencaci Makinya

  • Whatsapp
Akhlak Rasulullah yang Memaafkan Orang yang Mencaci Makinya


BincangSyariah.Com – Ketika Rasulullah saw. mengetahui perilaku suku Quraisy yang merendahkannya, maka beliau hijrah ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah pada tahun ke-10 setelah kenabian. Dalam hal ini, beliau menemui suku Tsaqif dan meminta pertolongan mereka untuk perlindungan masyarakat Islam. Namun, mereka menolak permintaan Rasulullah saw. tersebut secara keji dan jahat. Bahkan mereka meyuruh orang-orang pandir dan para budak untuk mencaci maki Rasulullah saw. dan melemparinya batu (‘Umar ‘Abd al-Jabbar, Khulashah Nur al-Yaqin fi Sirah Sayyid al-Mursalin, Juz I: 41).

Read More

Perbuatan jahat mereka tersebut menyebabkan urat keting Rasulullah saw. terluka dan mengalirkan darah. Sedangkan Zaid bin Haritsah terluka di bagian kepala karena melindungi Rasulullah saw. agar tidak terkena lemparan batu-batu tersebut. Akhirnya, malaikat Jibril menemui Rasulullah saw. seraya berkata: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar menaatimu (untuk membalas) mengenai perlakuan jahat kaummu terhadapmu” (hlm. 41-42).

Namun, Rasulullah saw. menjawab: “Ya Allah, semoga Engkau Memberikan petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Mendengar doa Rasulullah saw. tersebut, malaikat Jibril berkata: “Maha Benar Zat yang telah Memberimu nama ar-Ra’uf ar-Rahim (penyantun lagi penyayang)” (hlm. 42).

Menurut Imam al-Jazuli dalam Dala’il al-Khairat, Rasulullah saw. memiliki 201 nama, di mana salah satunya adalah Ra’uf Rahim (sangat belas kasihan lagi penyayang). Nama Ra’uf Rahim ini disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an, yaitu: “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman” (at-Taubah (9): 128).

Keberadaan at-Taubah (9): 128 ini, menurut Imam Ibnu ‘Abbas ra., menunjukkan bahwa Allah Menamai Rasulullah saw. dengan dua nama sekaligus dari Nama-nama Terbaik-Nya (al-asma’ al-khusna), yaitu Ra’uf dan Rahim (Syekh Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, 2009, VI: 94).

Imam al-Hasan bin al-Mufadhdhal menyebutkan bahwa tidak ada satu pun para nabi di muka bumi ini yang memiliki dua nama sekaligus dari Nama-nama Terbaik Allah selain Rasulullah saw. Sebab, Allah Memberikan dua nama  sekaligus dari Nama-nama Terbaik-Nya tersebut hanya kepada Rasulullah saw. semata, di mana Allah sendiri adalah Tuhan yang sangat Belas Kasih dan Penyayang kepada seluruh manusia (Syekh Ahmad ash-Shawi, Tafsir ash-Shawi, II: 176). Dalam hal ini, al-Qur’an menegaskan bahwa: “Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia” (al-Baqarah (2): 143).

Adapun makna Ra’uf lebih khusus daripada Rahim. Ra’uf bermakna sangat belas kasih kepada orang-orang yang lemah, susah, menderita, dan tertindas. Sedangkan kata rahim umum kepada siapa saja, yaitu kasih-sayang kepada semua orang, baik dalam keadaan susah dan lemah maupun dalam keadaan bahagia dan jaya (at-Tafsir al-Munir, hlm. 93).

Akhirnya, wahai para teroris, alangkah indahnya hidup ini jika kalian semua meniru keindahan akhlak dan kasih-sayang Rasulullah saw.―yang memandang manusia dengan penuh cinta dan kasih-sayang, bukan dengan kebencian dan permusuhan. Orang yang mencaci maki Rasulullah pun dimaafkan. Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *