Gerhana Matahari Terjadi di Luar Negeri, Apakah di Indonesia Shalat Gerhana Matahari?

  • Whatsapp
Amalan Sunah Saat Ingin Melaksanakan Shalat Gerhana Matahari | Bincang Syariah


BincangSyariah.Com— Gerhana Matahari Cicin pertama akan terjadi hari ini, Kamis 10 Juni 2021. Fenomena ini terbilang cukup langka. Persitiwa Gerhana Cincin, mengutip website Lapan.go.id  terjadi saat Bulan menutupi pusat Matahari. Bulan akan meninggalkan bagian luar Matahari membentuk cincin api. Ini terjadi karena Bulan berada cukup jauh dan tampak kecil dari Bumi.

Read More

Sayangnya, menurut laporan Lembaga Penerangan dan Antariksa Nasional, Gerhana Matahari Cincin tak dapat disaksikan di Indonesia. Pasalnya, hanya beberapa wilayah tertentu yang bisa menyaksikan Gerhana Matahari Cincin.

“Gerhana Matahari Cincin hanya dapat disaksikan di Pulau Ellesmere dan Baffin (Kanada) serta Kawasan Siberia (Rusia) dengan ketampakan maksimal terjadi pada pukul 17.43 WIB atau 18..43 WITA atau 19.43 WIT. Sementara itu, wilayah seperti Greenland, Islandia, Eropa, Rusia, negara Asia Tengah dan Tiongkok bagian Barat dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian” tulis LAPAN.

Nah, ketika Gerhana Matahari Cincin terjadi di Kutub Utara dan sebagian kecil negara Asia Tengah, apakah umat Islam di Indonesia masih sunah melaksanakan shalat gerhana matahari?

Terkait perintah melaksanakan shalat gerhana matahari, merupakan perintah langsung dari Baginda Nabi. Hal itu tertuang dan termaktub dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hal itu sebagaimana ditulis oleh Imam Nawawi dalam kita Majmu’ Syarah al Muhadzab, Nabi bersabda;

إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا وَصَلُّوا”

Artinya: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihat keduanya, maka berdirilah dan shalatlah”

Dan juga ada hadis Nabi Muhammad;

إن الشمس والقمر لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته، ولكنهما آيتان من آيات الله فإذا رأيتموهما فصلوا

“Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan terjadi bukanlah disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang, namun keduanya merupakan dua tanda dari tanda-tanda Allôh. Apabila kalian melihatnya, maka sholatlah!.”

Artinya: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidup seseorang. Akan tetapi keduanya tanda dari kekeuasaan Allah Apabila kalian melihat keduanya mengalami gerhana, maka salat dan berdoalah

Di samping Sabda Baginda Nabi tersebut, terdapat pula perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dalam Al-Qur’an Q.S Fushilat ayat  37. Allah berfirman ;

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: Sebagian tanda kebesaran Allah adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya,”

Ayat dan hadis inilah yang menjadi dasar para ulama menyatakan sunah hukumnya melaksanakan shalat gerhana matahari. Adapun persoalan terkait gerhana matahari yang terjadi di Kutub Utara, bukan di Indonesia, maka ulama berpendapat tidak disyariatkan untuk mengerjakan shalat gerhana matahari. Pasalnya, gerhana matahari cincin tidak terjadi di negeri Indonesia, dan kaum muslimin pun tidak melihatnya secara langsung.

Hal ini sebagaimana difatwakan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdur Rahman bin Baz dalam kitab Majmu’ al Fatawa wa Maqalatu Mutanawwi’ah jilid XIII. Syek Bin Baz menyebutkan hukumnya tidak disyariatkan mengerjakan shalat gerhana suatu daerah, bila gerhana matahari atau bulan tersebut terjadi di daerah atau negara lain. Pasalnya gerhana itu tidak terjadi di daerahnya sendiri.

ويعلم أيضاً أنه لا يشرع لأهل بلد لم يقع عندهم الكسوف أن يصلوا؛ لأن الرسول ﷺ علق الأمر بالصلاة وما ذكر معها برؤية الكسوف لا بالخبر من أهل الحساب بأنه سيقع، ولا بوقوعه في بلد آخر، إنما صلى صلاة الكسوف لما وقع ذلك في المدينة وشاهده الناس،

Artinya: ketahuilah juga, sesungguhnya tidak ada perintah syariat (untuk shalat gerhana) bagi suatu negeri atau daerah yang tidak terjadi pada daerah mereka gerhana untuk shalat. Karena Nabi Muhammad memerintahkan shalat dan melakukan amalan sebab melihat langsung gerhana tidak berdasarkan kabar dari ahli Hisab, dengan ahli hisab itu mengatakan gerhanakan akan terjadi.

Selanjutnya, shalat gerhana juga tidak di syariatkan ketika gerhana itu terjadi di negeri atau negara lain. Pasalnya, shalat gerhana hanya dilakukan apabila terjadi di daerah itu dan melihatnya manusia.

Itulah sekilas keterangan dari Syekh Abdul Aziz bin Baz terkait persoalan shalat gerhana. Dari sini kita bisa simpulkan, gerhana matahari cincin yang terjadi di luar negeri, maka umat Islam Indonesia tidak disunahkan untuk melaksanakan shalat gerhana matahari. Semoga bermanfaat.

(Baca: Gerhana Matahari Cincin Terjadi pada 21 Juni 2020)

 

 

 



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *