Hak Asuh Anak Perempuan dalam Hukum Islam

  • Whatsapp
Hak Asuh Anak Perempuan dalam Hukum Islam | Bincang Syariah


BincangSyariah.Com – Di kalangan sebagian masyarakat, terdapat sebuah anggapan bahwa yang paling berhak mengasuh anak laki-laki adalah ibunya, sementara untuk anak perempuan adalah ayahnya. Dalam hukum Islam, sebenarnya siapa yang paling berhak memiliki hak asuh anak perempuan?

Read More

Dalam kitab-kitab fiqih, penjelasan mengenai hak asuh anak ini disebut dengan hadhanah. Menurut para ulama, hadhanah adalah mengasuh anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun perempuan, dan mengurus semua urusannya.

Menurut para ulama, yang paling berhak mengasuh anak kecil yang belum tamyiz, baik itu anak laki-laki maupun anak perempuan, adalah ibunya. Dalam Islam, tidak ada perbedaan mengenai hak asuh antara anak laki-laki dan perempuan, semuanya diserahkan kepada ibunya.

Oleh karena itu, jika antara suami dan istri sudah bercerai dan mereka memiliki anak perempuan yang masih kecil, maka si istri atau ibunya lebih berhak mengasuh anak perempuannya dibanding suami atau ayahnya. Hal ini karena ibu lebih sayang dan lebih sabar dalam mengurus dan mendidik anaknya. Juga ibu lebih lembut, lebih sensistif, dan lebih mampu memenuhi kebutuhan kasih sayang anak. Hal ini sebagaimana keterangan Syekh Mushtafa al-Bugha dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syafi’i berikut:

إن الأم أحق بالحضانة من الأب، للأسباب التالية: لوفور شفقتها، وصبرها على أعباء الرعاية والتربية. لأنها ألين بحضانة الأطفال، ورعايتهم، وأقدر على بذل ما يحتاجون إليه من العاطفة والحنو

Artinya:

Adapun ibu lebih berhak atas pengasuhan daripada ayah karena beberapa alasan berikut; Pertama, kasih sayangnya lebih luas serta kesabarannya lebih besar dalam menanggung beban pengurusan dan pendidikan. Kedua, ibu lebih lembut dalam mengasuh dan menjaga anak-anak, dan lebih mampu mencurahkan perasaan dan kasih sayang yang mereka butuhkan.

Dalil yang dijadikan dasar bahwa ibu lebih berhak mengasuh anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, adalah hadis riwayat Imam Ahmad, dari Abdullah bin Amr, dia berkisah;

أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُول اللَّهِ: إِنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً، وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً، وَزَعَمَ أَبُوهُ أَنَّهُ يَنْزِعُهُ مِنِّي، فَقَال: أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

Ada seorang perempuan mendatangi Rasulullah Saw dan berkata; Wahai Rasulullah, anakku ini dulu tempat tidurnya adalah perutku, minumnya dari air susuku, sementara suamiku ingin mengambil (untuk mengasuhnya) dariku. Rasulullah Saw lalu berkata; Kamu lebih berhak (untuk mengasuhnya daripada suamimu) selama kamu belum menikah lagi.



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *