Hati Senantiasa Bergantung kepada Allah, Ini Kisah Wali Allah yang Gila

  • Whatsapp


BincangSyariah.Com – Al-Imam Ahmad  Ar-Rifa’i dalam karyanya Halatu Ahli Al-Haqiqati Ma’allahi Ta’ala (juz, 1 hlm. 25) mengutarakan kalam hikmah sufi tentang hati yang senantiasa bergantung kepada Allah.

Read More

Beliau mengisahkan tentang kisah Nabi Isa dan Nabi Yahya. Pada suatu hari Nabi Isa dan Nabi Yahya berjalan disebuah lorong kecil. Tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang terus memperhatikan tingkah laku Nabi Yahya. Ketika berpapasan wanita itu menatap dengan tatapan yang menggoda. Nabi Isa menegur Nabi Yahya atas kejadian itu. “Wahai keponakan ibuku, hari ini engkau telah melakukan dosa besar.” Nabi Yahya bertanya kepada Nabi Isa. Dosa apakah itu wahai saudaraku? “Dosa karena engkau bertatapan dengan wanita.”

Nabi Yahya berkata kepada Nabi isa, “Demi Allah saya tidak merasakan itu wahai saudaraku.” Nabi Isa kebingungan atas pernyataan Nabi Yahya. Nabi isa berkata, “Badanmu saat ini bersamaku dan ada di mana ruh dan hatimu? “Hatiku fokus mengingat Allah,” jawab Nabi Yahya. Setelah Nabi Yahya dan Nabi Isa hendak berpisah Nabi Yahya mengungkapkan sebuah kata-kata yang sangat bijak:

 يا عيسى لو سكن قلبي إلى جبريل، أو إلى أحد غير الله طرفةَ عين، لظننتُ أنّي ما عرفتُ الله حقَّ معرفته

Wahai Isa! Jikalau hatiku menjadi tenang kepada Jibril atau kepada seseorang selain daripada Allah SWT seukuran sekedip mata, maka tentu aku menyangka bahwasanya diriku tidak mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya pengenalan.

Dikisahkan juga, pada suatu hari Syekh Abdul Bari berjalan bersama Dzun Nun Al-Mishri. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan sekumpulan anak kecil yang sedang melempari orang gila, Dzun Nun Al-Mishri bertanya kepana anak kecil, kenapa kalian melempari orang gila itu?

Si anak kecil menjawab, “Yang kami lempar itu mengaku melihat Allah.” Dzun Nun Al-Mishri penasaran terhadap orang gila itu, lalu ia mendekatinya, Dzun Nun Al-Mishri langsung bertanya pada orang yang diangggap gila, “Apakah benar engkau dapat melihat Allah?”  Orang yang dianggap gila itu menjawab, “Apabila terlewatkan bagiku untuk mengingat Allah seukuran kedipan mata, lebih baik saya mati saat ini juga.” Dan orang gila itu menendangkan sebuah Syair:

طَلَبُ الحبيبِ من الحبيبِ رضاهُ #   ومُنى الحبيبِ من الحبيبِ لقاهُ

Permintaan kekasih dari sang kekasih adalah kerelaannya. Dan harapan kekasih terhadap kekasih adalah bertemu dengannya.

أبداً يلاحِظُه بعَيني قلبهِ #   والقلبُ يعرفُ ربَّهُ ويراهُ

Selamanya ia akan memandang kekasih dengan mata hati. Dan hati itu mengenal Tuhannnya dan melihat-Nya.

يرضَى الحبيبُ من الحبيبِ بقربـه # دونَ العبادِ فما يريدُ سِواه

Kerelaan kekasih dari sang kekasih adalah dekat dengannya. Bukanlah jauh, maka ia tidak mengharapkan lainnya.

Setelah orang gila itu selesai membaca syair, Dzun Nun Al-Mishri bertanya, “Apakah engkau orang gila?”

“Iya, saya itu orang gila menurut penduduk bumi, dan menurut penduduk langit saya tidak gila.”

Dzun Nun Al-Mishri bertanya lagi, “bagaimana hubunganmu dengan tuhanmu?”

Orang gila menjawab, “Semenjak kenal Tuhan, saya tidak pernah bermaksiat.” Dzun Nun Al-Mishri masih penasaran. Ia bertanya untuk yang terahir kalinya sebelum ia berpisah. “Semenjak kapan engkau kenal Allah?” Orang gila menjawab, “Semenjak saya dikenal gila oleh manusia di muka bumi.” Oleh karena itu, kita juga tidak boleh menyakiti orang lain, sekalipun secara zahir orang itu gila. Jangan-jangan, orang gila itu wali Allah, karena hatinya senantiasa bergantung kepada Allah. Wallahu A’lam Bissawab.



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *