Hukum Barang Pinjaman Tapi Dipinjamkan Lagi Ke Orang Lain

  • Whatsapp


BincangSyariah.Com – Dalam Islam, kita diperbolehkan untuk meminjam barang kepada orang lain untuk kita gunakan manfaatnya. Misalnya, kita meminjam bolpen untuk kita gunakan menulis, dan lain sebagainya. Namun bagaimana jika kita meminjam barang namun barang tersebut dipinjamkan lagi ke orang lain, apakah boleh?

Read More

Menurut para ulama, jika kita meminjam barang kepada orang lain, maka kita tidak diperbolehkan meminjamkan barang pinjaman tersebut kepada orang lain. Kita tidak kita tidak diperbolehkan meminjamkan barang pinjaman kepada orang lain kecuali ada izin dari pemilik barang. Jika ada izin dari pemilik barang, maka barang tersebut boleh dipinjamkan lagi ke orang lain.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Zainudin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in berikut;

ولا يجوز لمستعير إعارة عين مستعارة بلا إذن معير، وله إنابة من يستوفي المنفعة له، كأن يركب دابة استعارها للركوب من هو مثله أو دونه لحاجته

Artinya:

Tidak boleh bagi peminjam meminjamkan barang yang dipinjam tanpa seizin orang yang meminjami (pemilik barang). Bagi peminjam boleh menggantikan orang yang bisa menggunakan manfaat barang pinjaman. Misalnya, dia menggantikan orang lain untuk membawa kendaraan pinjaman dalam rangka memenuhi kebutuhannya.

Dalam kitab Minhajut Thalibin juga disebutkan sebagai berikut;

فيعير مستأجر لا مستعير على الصحيح وله أن يستنيب من يستوفي المنفعة له

Artinya:

Penyewa boleh meminjamkan sementara peminjam tidak boleh, menurut pendapat yang shahih. Namun demikian, peminjam boleh meminta seseorang untuk menggantikannya untuk memenuhi manfaat barang pinjaman padanya.

Salah satu alasan mengapa barang pinjaman tidak boleh dipinjamkan adalah karena peminjam bukan pemilik barang. Peminjam hanya berhak menggunakan manfaat dari barang yang dipinjam. Barang pinjaman sepenuhnya berada di kekuasan pemilik barang. Karena itu, jika peminjam ingin meminjamkan barang yang dipinjam, dia harus terlebih dahulu minta izin pada pemilik barang.

Terkait masalah ini, Syaikh Abu Bakar Syatha sudah menjelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin sebagai berikut;

ولا يجوز لمستعير إعارة عين  أي لأنه لا يملكها وإنما يملك أن ينتفع بها

Tidak boleh bagi peminjam meminjamkan barang pinjaman. Hal ini karena dia tidak memiliki barang pinjaman tersebut. Dia hanya boleh mengambil manfaat dari barang pinjaman.



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *