Hukum Bersalaman Setelah Shalat Selama Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Zainuddin Lubis


BincangSyariah.Com— Pandemi Covid-19 masih terjadi di Indonesia. Jutaan orang masih terjangkit virus Corona. Kontak langsung dengan orang yang positif Covid-19 adalah penyumbang tambahan pasien Covid-19. Ada pun kontak langsung itu antara lain; bersalaman setelah shalat, berjabat tangan ketika bertemu dan mengobrol dalam jarak dekat.

Read More

Nah, salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia adalah berjabat tangan (bersalaman) setelah shalat. Kebiasaan ini jamak kita jumpai di pelbagai masjid di Nusantara. Dalam Islam, bagaimana hukum bersalaman setelah shalat selama pandemi Covid-19?

Pada dasarnya hukum bersalaman ketika selesai shalat adalah sunat. Pendapat ini dikatakan oleh Syekh Syarbaini al Khatib dalam kitab Mugni al-Muhtaj Ila Ma’rifah Ma’ani Alfaz al-Minhaj.Pasalnya, menurut al Khatib Syarbaini orang yang bertemu dan bersalaman, maka Allah akan mengampuni dosa kedua.

Syekh al Khatib Syrabaini mengatakan dalam Mughni al Muhtaj jilid III, halaman 135;

و تسن المصافحة الرجلين والمرأتين

Artinya: Disunatkan salaman pria dengan pria atau wanita dengan wanita.

Sebagaimana hadis berikut:

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِه يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ (رواه البخارى)

Artinya; “Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya”. (H.R. Bukhari/3360).

Ada terkait salaman pada masa wabah Covid-19, Syekh Ḥasanain Muḥammad Maḫlūf, ulama besar dari Dar Ifta Mesir mengatakan wajib hukumnya meninggalkan bersalaman selesai shalat ketika terjadi wabah. Pun wajib juga hukumnya tidak bersalaman ketika bertemu dengan sesama muslim.

Pasalnya, meninggalkan bersalaman itu untuk menolak terjadi mudharat yang lebih besar. Dan juga mencegahnya terjadi penyebaran wabah yang bisa berakibat fatal bagi diri manusia. Ini merupakan anjuran syariat Islam.

Syekh Ḥasanain Muḥammad Maḫlūf berkata;

 عن حكم الشرع في ترك المصافحة باليد عند اللقاء، فأجبتهم بأن دفع الضرر ودرء الخطر عن الأنفس واجب

Artinya: tentang hukum Syariat Islam untuk meninggalkan berjabat tangan (bersalaman) ketika wabah, maka hukumnya wajib meninggalkan salaman untuk menolak mudharat yang lebih besar dan juga untuk menolak kekhawatiran yang bisa membuat diri binasa.

Demikian ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an al-Baqarah ayat 195;

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Artinya; Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.

Lebih lanjut, menurut Syekh Hasanain Muhammad Mahluf barang siapa yang kekeuh bersamalan, lantas menyebabkan orang lain terinfeksi, maka perbuatan itu merupakan bagian dari dosa besar. Pasalnya, kelalaian itu bisa mengakibatkan terbunuh jiwa manusia.

Syekh Hasanain Muhammad Mahluf menuturkan;

والتقصير فيه من كبائر الذنوب، والمُقَصِّر فيه مع التمكُّن منه أشبه بالتَّسَبُّب في قتل النفس التي حرم الله إلا بالحق

Artinya; Kelalaian (baca; mengabaikan meninggalkan salaman) padanya adalah dosa besar, dan kelalaian seperti itu bisa menyebabkan terbunuhnya jiwa  manusia, itu dilarang Tuhan, kecuali pembunuhan itu diizinkan (Baca; misalnya pembunuhan pada perang).

Demikian penjelasan tentang bagaimana hukum bersalaman setelah shalat selama pandemi covid-19?

(Baca: Jabat Tangan Setelah Shalat Bid’ah?)

 



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *