Hukum Menindik Telinga Hewan Kurban

  • Whatsapp


BincangSyariah.Com – Ketika musim kurban, banyak masyarakat muslim di Indonesia yang membeli hewan untuk dijadikan kurban. Biasanya karena banyak pemesanan hewan kurban, penjual terkadang menandai hewan kurban yang sudah terjual dengan cara mengecatnya, mengalungkan nama pemilik, bahkan ada yang menindik telinga hewan kurban lalu digantungkan sebuah pin nama pemiliknya. Bagaimana hukum menindik telinga hewan kurban ini?

Read More

Dalam kitab-kitab fiqih, menindik telinga hewan sebagai penanda bahwa hewan itu adalah hewan kurban, atau sebagai penanda dari pemilik hewan tersebut, disebut dengan isy’ar. Menurut para ulama, hukum isy’ar dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut;

Pertama, isy’ar atau menindik telinga hewan, jika hewan tersebut berupa kambing atau domba, maka hukumnya tidak boleh. Hal ini karena kambing dan domba merupakan hewan yang lemah sehingga tidak boleh dilukai, meskipun bertujuan untuk menandai bahwa kambing atau domba hendak dijadikan kurban.

Menurut para ulama, kambing atau domba hendaknya ditandai dengan cara diberikan kalung di lehernya, bukan dengan cara dilukai, baik di bagian telinganya atau lainnya.

Kedua, isy’ar atau menindik telinga hewan, jika hewan tersebut berupa sapi atau unta, hukumnya adalah boleh. Tidak masalah menindik atau melukai sapi dan unta jika bertujuan untuk memberitahukan bahwa sapi dan unta tersebut hendak dijadikan kurban.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim berikut;

واتفقوا على أن الغنم لا تشعر لضعفها عن الجرح ، ولأنه يستتر بالصوف وأما البقرة فيستحب عند الشافعي وموافقيه الجمع فيها بين الإشعار والتقليد كالإبل

Ulama sepakat bahwa kambing tidak boleh diberi isy’ar. Karena dia sangat lemah, jika harus dilukai. Lebih dari itu, badannya tertutupi bulunya yang tebal. Untuk sapi, Imam Al-Syafii dan ulama yang setuju dengannya, menganjurkan untuk diberi isy’ar dan taqlid (dikalungkan tali di leher), sebagaimana unta. (Baca: Suri Tauladan Fathimah Az-Zahra Membersihkan Kotoran Unta di Punggung Sang Ayah)

Dalil yang dijadikan dasar kebolehan isy’ar pada sapi dan unta ini adalah hadis riwayat Imam Muslim, dari Ibnu Abbas, dia berkata;

صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الظُّهْرَ بِذِى الْحُلَيْفَةِ ثُمَّ دَعَا بِنَاقَتِهِ فَأَشْعَرَهَا فِى صَفْحَةِ سَنَامِهَا الأَيْمَنِ وَسَلَتَ الدَّمَ وَقَلَّدَهَا نَعْلَيْنِ ثُمَّ رَكِبَ رَاحِلَتَهُ فَلَمَّا اسْتَوَتْ بِهِ عَلَى الْبَيْدَاءِ أَهَلَّ بِالْحَجِّ.

Nabi Saw melaksanakan shalat Dzuhur di Dzilhulaifah, kemudian beliau meminta diambilkan untanya. Lalu beliau melakukan isy’ar di sisi punuknya sebelah kanan, hingga terluka dan mengalirkan darah, lalu beliau mengalungkan dua sandal di lehernya. Kemudian beliau menaiki hewan tunggangannya. Setelah beliau berada di atas tunggangannya, beliau berihlal untuk haji.



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *