Khutbah Jumat ; Jihad Melawan Hawa Nafsu Saat Puasa Ramadhan

  • Whatsapp
Zainuddin Lubis


BincangSyariah.Com- Berikut tema khutbah Jumat; Jihad Melawan Hawa Nafsu Saat Puasa Ramadhan.

Read More

Khutbah I

اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا ,وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: ﴿الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ﴾. ويقولُ: ﴿يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Hadirin pendengar khutbah Jumat 2021 yang berbahagia

Ungkapan rasa syukur selalu kita ucapkan pada Allah yang telah memberikan kepada kita kesehatan dan kesempatan, sehingga kita bisa berkumpul untuk melaksanakan ibadah salat Jumat. Syukur adalah rasa terima kasih seorang Hamba kepada Tuhannya. Dan lebih dari itu, syukur hakikatnya adalah kesadaran diri.

Salawat kita haturkan keharibaaan nabi yang sangat mulia. Seorang manusia yang memiliki sumbangsih besar pada dunia. Manusia pertama yang memperkenalkan Hak Asasi.

Seorang Rasul yang baik akhlak dan perilakunya. Seorang manusia sejati, yang mengajarkan kepada manusia untuk memuliakan manusia. Dialah Baginda Nabi, Muhammad SAW. Akhlak tauladan Rasul tampaknya, sangat penting untuk direnungi manusia modern saat ini.

Dengan lafadz:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Sebagai khatib, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi kami secara pribadi untuk mengajak kita semua, mari sama-sama kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Hanya dengan Iman dan takwa hidup akan bahagia dunia dan akhirat kelak.

Hadirin Sedang pendengar Khutbah Jumat 2021 yang berbahagia

Ramadhan tinggal hitungan hari. Bila tak ada aral melintang, Rabu (13/4) April mendatang kita umat Islam akan melaksanakan puasa Ramadhan. Ada kebahagiaan tersendiri bagi umat muslim dalam menyambut Ramadhan. Pasalnya, bak diskon, give away, atau bonus, Ramadhan memiliki pelbagai kemuliaan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an dalam Q.S al-Baqarah ayat 183;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Dalam Ramadhan terkandung rahmat, ampunan, dan pembebasan dari siksaan api neraka. Ini semua bonus dari Allah bagi hambanya yang melaksanakan puasa dengan sempurna. Puasa yang bukan saja menahan lapar dan dahaga, tetapi puasa yang mampu menahan pelbagai godaan dari syahwat duniawi manusia.
Rasulullah bersabda;

كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع والعطش

Artinya: Betapa banyak manusia yang berpusa, tetapi tak ada baginya nilai puasanya melainkan menahan rasa lapar dan haus semata.

Untuk itu dalam kesempatan khutbah jumat kali ini, khatib akan membahas Jihad Melawan Hawa Nafsu Saat Ramadhan. Tema jihad agaknya tak pernah sepi dalam khazanah Indonesia. Terlebih belakangan, marak terjadi aksi terorisme di Indonesia. Sayangnya, aksi teror ini mengatasnamakan jihad. Padahal makna jihad bisa sangat beragam. Salah satunya melawan hawa nafsu.

Dalam Q.S Al-Ankabut, Ayat 6-7 Allah berfirman sebagai berikut:

وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهٖ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ  وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَحْسَنَ الَّذِيْ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ.

Artinya: “Dan barangsiapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”

Hadirin sidang khutbah jumat yang berbahagia

Menurut Profesor Quraish Shihab dalam buku Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (2017), menjelaskan makna jihad yang dimaksud dalam ayat ini bukan dengan mengangkat senjata. Pasalnya ayat ini turun pada periode Mekah—sebelum Muhammad hijrah—, dan izin atau perintah untuk berperang dan mengangkat senjata baru diizinkan setelah nabi hijrah (periode Madinah).

Pada sisi lain  Al-Biqai, menjelaskan bahwa makna jihad dalam tafsir ayat ini adalah mujahadah—uapaya sungguh-sungguh melawan dorongan hawa nafsu.  Pasalnya, hawa nafsu akan membawa manusia terjerembat dalam kesesatan . Pun hawa nafsu yang tak terkontrol, menjerumuskan manusia pada kejahatan. Untuk itu, menaklukkan hawa nafsu adalah jihad terbesar manusia. Terlebih pada saat Ramadhan ini.

Hadirin Pendengar khutbah Jumat yang berbahagia

Hal ini sejalan dengan hadist Rasul yang tercantum dalam kitab al-Jami’ al-Kabir, jilid III, karya Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isa al-Tirmizi, yang berbunyi:

افضل الجهاد ان تجاهد نفسك وهواك في ذات الله تعالى

Artinya; Jihad yang paling mulia adalah melawan hawa nafsumu karena Allah swt.

Ada pun Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarah Shahihul Bukhari, menjelaskan tentang melawan hawa nafsu. Ibn Hajar menyebut jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad paling sempurna. Sejatinya, hawa nafsu yang tak terkontrol akan menyeret manusia pada kehancuran.

Ibn Hajar dalam Fathul Bari berkata;

وَالْمُرَادُ بِالْمُجَاهَدَةِ كَفُّ النَّفْسِ عَنْ إِرَادَتِهَا مِنَ الشَّغْلِ بِغَيْرِ الْعِبَادَةِ وَقَالَ بن بَطَّالٍ جِهَادُ الْمَرْءِ نَفْسَهُ هُوَ الْجِهَادُ الْأَكْمَلُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَن الْهوى

Artinya: Maksud berjihad di sini adalah menahan nafsu dari keinginannya melakukan kesibukan selain ibadah. Ada pun Ibnu Bathal berkata, “Jihadnya seseorang melawan nafsunya adalah jihad paling sempurna. Allah SWT berfirman; Ada pun orang yang takut kepada maqam Tuhannya, dan menahan dirinya dari memperturutkan hawa nafsunya, sungguh surga akan menjadi tempat tinggalnya.

Mengatur hawa nafsu bukan sesuatu yang mudah. Pasalnya hawa nafsu adalah musuh tak terlihat. Bayangkan betapa susahnya berurusan dengan musuh yang tak terlihat oleh pandangan mata. Wajar saja, Rasulullah menyebut melawan hawa nafsu merupakan jihad yang paling besar.

Baginda Nabi Muhammad bersabda;

رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ فَقِيْلَ وَمَا جِهَادُ الأَكْبَر يَا رَسُوْلَ الله؟ فَقَالَ جِهَادُ النَّفْسِ

Artinya; Kalian telah kembali dari perang kecil menuju pertempuran yang lebih besar. kemudian sahabat bertanya, “apakah perang yang lebih besar dari perang badar ini itu wahai Rasulullah? Nabi menjawab; “jihad melawan hawa nafsu.”

Lantas bagaimana jihad melawan hawa nafsu? Apakah membunuh nafsu? Sehingga manusia tak memiliki hawa nafsu lagi.

Hawa nafsu tak boleh dibunuh. Tak juga jangan dimatikan. Jangan juga dibinasakan. Sejatinya, hawa nafsu itu dibimbing dan dikendalikan. Laiknya kuda, hawa nafsu harus dikendalikan agar tak kebablasan.

Salah satu pengendali hawa nafsu adalah akal. Akal berfungsi untuk membedakan yang baik dan buruk. Dengan akal manusia tidak terjebak pada ambisi hawa nafsu. Dengan akal manusia akan mampu meningkatkan derajatnya. Akal membawa manusia lebih mulia dari binatang. Dan lebih tinggi derajatnya dari malaikat. Inilah pengendali nafsu.

Demikian keterangan khutbah Jumat: jihad melawan hawa nafsu saat puasa Ramadhan. Semoga bermanfaat.

Khutbah II

إنَّ الحَمدَ لله نحمدُهُ ونستعينهُ ونستهديهِ ونشكرُهُ ونعوذُ بالله من شرورِ أنفسِنَا ومن سيئاتِ أعمالنا، مَن يهدِ الله فلا مُضِلَّ لهُ ومن يُضلِل فلا هاديَ له، وأشهدُ أنْ لا إلـهَ إلا الله وحدَهُ لا شريكَ لهُ وأنَّ محمّدًا عبدُهُ ورسولُهُ صَلَواتُ الله وسلامُهُ عليهِ وعلى كلّ رسولٍ أَرْسَلَهُ. أمّا بعدُ عبادَ الله فإنّي أوصيكُمْ ونفسي بِتَقوَى الله العليّ القديرِ واعلَموا أنَّ الله أمرَكُمْ بأمْرٍ عظيمٍ، أمرَكُمْ بالصلاةِ والسلامِ على نبيِهِ الكريمِ فقالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ اللّهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم، وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ، إنّكَ حميدٌ مجيدٌ

اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ رَبَّنَا اغْفِرْ وََارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

Baca:Khutbah Jumat 2021; Paham Hakimiyah, Akar Terorisme di Indonesia)



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *