Mencari Arti Bahagia dalam Al-Qur’an

  • Whatsapp
Mencari Arti Bahagia dalam Al-Qur'an | Bincang Syariah


BincangSyariah.Com – Setiap orang menginginkan kebahagiaan dalam hidup. Ada yang segera menemukan arti bahagia dalam Al-Qur’an, ada pula yang harus melewati proses panjang terlebih dahulu sebelum menemukan arti bahagia versi dirinya sendiri.

Read More

Namun, tak sedikit orang yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan kebahagiaan versi dirinya, lalu menafikan pedoman hidup, kitab suci Al-Qur’an. Padahal, Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya sumber, tempat manusia kembali ketika dilanda gundah gulana dalam hidupnya.

Lantas, bagaimana sebenarnya arti bahagia dalam Al-Qur’an?

Bahagia Versi Imam Al-Ghazali

Sebelum kembali pada Al-Qur’an, seorang manusia sudah semestinya mengetahui terlebih dahulu arti kebahagiaan dalam hidupnya. Ada banyak arti kebahagiaan yang bisa digali dari berbagai macam perspektif, termasuk perspektif bahagia dalam filsafat Islam.

Imam al-Ghazali mendefinisikan bahagia dalam Ihya Ulumuddin sebagai sebuah kondisi spiritual saat manusia berada dalam satu puncak ketaqwaan. Bahagia adalah kenikmatan dari Allah Swt. dan merupakan manifestasi berharga dari mengingat Allah Swt.

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan manusia adalah apabila ia berhasil mencapai tahap makrifat di mana ia telah mengenal Allah Swt. Ketahuilah, katanya, kebahagiaan datang jika seorang manusia mampu merasakan nikmat dan kesenangan. Kesenangan tidak bermakna tunggal, tapi maknanya bisa menurut tabiat kejadian masing-masing.

Kebahagiaan adalah kedamaian dan keamanan serta ketenangan hati atau tuma’ninah. Kebahagiaan bisa mengakibatkan seseorang mengenal Allah Swt. dan memunculkan keimanan, juga sebagai pengenalan tentang Allah Swt. sebagaimana Dia menggambarkan diri-Nya dalam wahyu.

Selain itu, kebahagiaan juga bisa membuat manusia mengetahui tempat yang benar dan tepat dalam alam ciptaan dan hubungan yang tepat dengan Sang Pencipta. Lantas, bagaimana kata bahagia ditempatkan dalam Al-Qur’an?

Dalam buku Tafsir Kebahagiaan: Pesan Al-Qur’an Menyikapi Kesulitan Hidup (2010) dipaparkan bahwa di antara kata yang paling tepat menggambarkan kebahagiaan adalah aflaha. Kata aflaha bisa ditemukan dalam empat ayat Al-Qur’an sebagai berikut:

Pertama, Quran Surat Thaha Ayat 64.

 فَأَجْمِعُوا۟ كَيْدَكُمْ ثُمَّ ٱئْتُوا۟ صَفًّا ۚ وَقَدْ أَفْلَحَ ٱلْيَوْمَ مَنِ ٱسْتَعْلَىٰ

Fa ajmi’ụ kaidakum ṡumma`tụ ṣaffā, wa qad aflaḥal-yauma manista’lā

Artinya: “Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris. dan sesungguhnya beruntunglah oran yang menang pada hari ini.”

Kedua, Quran Surat al-Mukminun Ayat 1.

 قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ

qad aflaḥal-mu`minụn

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,

Ketiga, Quran Surat Al-A’la Ayat 14.

 قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

Qad aflaḥa man tazakkā

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),”
Keempat, Quran Surat Asy-Syams Ayat 9

 قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

Qad aflaḥa man zakkāhā

Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,”

Kata dalam ayat-ayat tersebut selalu didahului kata penegas qad yang mempunyai arti ‘sungguh’ sehingga berbunyi qad aflaha atau ‘sungguh telah berbahagia’. Aflaha adalah kata turunan dari akar kata falah.

Kamus-kamus bahasa Arab klasik memerinci makna falah sebagai berikut: kemakmuran, keberhasilan, atau pencapaian apa yang kita inginkan atau kita cari; sesuatu yang dengannya kita berada dalam keadaan bahagia atau baik; terus-menerus dalam keadaan baik; menikmati ketentraman kenyamanan, atau kehidupan yang penuh berkah; keabadian, kelestarian, terus-menerus, keberlanjutan.

Perincian makna falah adalah komponen-komponen kebahagiaan. Kebahagiaan-kebahagiaan bukan hanya ketenteraman dan kenyamanan semata. Kenyamanan atau kesenangan satu saat saja tidak melahirkan kebahagiaan.

Mencapai keinginan saja tidak dengan sendirinya memberikan kebahagiaan. Kesenangan dalam mencapai keinginan biasanya bersifat sementara. Satu syarat penting harus ditambahkan yaitu kelestarian atau mene-tapnya perasaan itu dalam diri kita.

Setiap hari, paling tidak sepuluh kali, muazin di seluruh dunia Islam meneriakkan hayya ‘ala al-falah, atau marilah meraih kebahagiaan. Dalam Mazhab Ahlul Bait, setelah hayya ‘ala al-falah, mereka membaca hayya ‘ala al-khayr atau marilah kita berbuat baik.

Orang yang bahagia cenderung berbuat baik. Setelah mempertahankan kebahagiaan itu dengan berbat baik. Jadi, suara muazin saja sudah cukup menjadi bukti bahwa agama Islam memanggil umatnya setiap saat untuk meraih kebahagiaan.

Maka dari itu, apabila mendengar suara azan, disunnahkan untuk menjawab azan tersebut sebagaimana yang diucapkan oleh muazin, kecuali apabila muazin mengucapkan: “Hayya alash-shalah”, “Hayya alal-falah”, dan “Ashsalatu khairum minan-naum” dalam azan Subuh.

Jika muazin mengucapkan “Hayya alash-shalah” atau “Hayya alal-falah”, disunnahkan menjawabnya dengan lafal “La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim” yang artinya “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Swt”.

Seruan meraih kebahagian ada dalam setiap adzan yang dikumandangkan setiap shalat lima waktu tiba. Begitu juga dalam Al-Qur’an. Apabila kita jeli dalam mencari, ada banyak makna tentang kebahagiaan atau arti bahagia dalam Al-Qur’an.

Baca: Nasihat Fudhail bin Iyadh dan Ibn Qayyim ; Tentang Sengsara dan Bahagia

Tiga Makna Bahagia

Dalam al-Mufradat fi Gharaib al-Qur’an (Juz I), Al-Raghib al-Asfahany mengartikan kata sa’id dalam Surat Hud Ayat 105 dengan “pertolongan kepada manusia terhadap perkara ketuhanan untuk memperoleh kebaikan”.

Dijelaskan pula bahwa kata sa’id yang berarti kebahagiaan adalah lawan dari kata syaqawah/syaqiyyun yang berarti sengsara sebagaimana firman Allah Quran Surat Hud Ayat 105 sebagai berikut:

 يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَسَعِيدٌ

Yauma yati lā</i></em><em><i> takallamu nafsun ill</i></em><em><i>ā</i></em><em><i> biiżnih, fa min-hum syaqiyyuw wa sa’īd

Artinya: “Dikala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia..”

Tetapi, meskipun kata sa’id adalah terjemahan yang paling dekat dengan bahagia, kata falah, najat, dan najah adalah kata-kata dalam bahasa Arab yang serumpun dengan makna bahagia. Sebab saat orang mendapat keberuntungan, keselamatan dan kesuksesan, maka perasaannya sudah pasti akan bahagia.

Kata sa’adah bermakna nuansa anugerah dari Allah Swt. untuk manusia setelah terlebih dahulu mengarungi manusia dengan kesulitan. Sementara falah berarti menemukan apa yang dicari atau idrak al-bughyah.

Sedangkan najat adalah kebahagiaan yang dirasakan sebab telah atau merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan. Sebagai misal, saat menerima putusan bebas dari pidana, saat mendapat grasi besar dari presiden, atau saat seluruh keluarganya selamat dari gelombang tsunami dan lain sebagainya.

Terakhir, kata najah. Kata tersebut memiliki arti perasaan bahagia karena yang diidam-idamkan ternyata terkabul padahal ia sudah merasa pesimis. Sebagai misal, keluarga miskin yang berhasil membuat sepuluh anaknya menjadi sarjana.

Nurcholish Madjid atau Cak Nur pernah menyatakan bahwa apabila kita membahas mengenai kebahagiaan, maka kita tidak bisa lepas dari kata kesengsaraan yang merupakan lawan kata dari kebahagiaan itu sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Surat Hud Ayat 105-108.

Menurut Cak Nur, ayat tersebut menjelaskan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan ruhani atau duniawi dan ukhrawi namun tetap membedakan keduanya.

Dalam Islam, seseorang dianjurkan untuk mengejar kebahagiaan di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.

Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) adalah di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih). Hal ini tercantum dalam Surat Al-Hud ayat 106 sebagai berikut:

 فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُوا۟ فَفِى ٱلنَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ

Fa ammallażīna syaqụ fa fin-nāri lahum fīhā zafīruw wa syahīq

Artinya: “Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),”

Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Hal tersebut ada dalam Surat Al-Hud ayat 107 sebagai berikut:

Quran Surat Hud Ayat 107

 خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Khālidīna fīhā mā dāmatis-samāwātu wal-arḍu illā mā syā`a rabbuk, inna rabbaka fa”ālul limā yurīd

Artinya: “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”

Sementra itu, tempa orang-orang yang berbahagia adalah di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya. Hal ini tercantum dalam Surat Al-Hud ayat 108 sebagai berikut:

 ۞ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُوا۟ فَفِى ٱلْجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۖ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

Wa ammallażīna su’idụ fa fil-jannati khālidīna fīhā mā dāmatis-samāwātu wal-arḍu illā mā syāa rabbuk, 'a</i></em><em><i>ṭ</i></em><em><i>āan gaira majżż

Artinya: Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Artinya: “Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”

Surat A-Hud ayat 108 menjelaskan tentang orang yang berbahagia di akhirat. Sementara itu, Al-Qur’an mengingatkan manuia agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini dalam Q.S. Al-Qashash Ayat 77 sebagai berikut:

 وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Wabtagi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naībaka minad-dun-yā wa aḥsing kamā aḥsanallāhu ilaika wa lā tabgil-fasāda fil-arḍ, innallāha lā yuḥibbul-mufsidīn

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat tersebut mencontohkan arti bahagia dalam Al-Qur’an yakni dengan cara berbuat baik selama hidup di dunia serta tidak membuat kerusakan di muka bumi di mana manusia tinggal semenjak lahir hingga ia meninggal dunia.

Dari tafsiran tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa untuk memperoleh kebahagiaan akhirat, manusia belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia. Begitu juga sebaliknya, orang yang mengalami kebahagiaan di dunia belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Islam mendorong manusia agar dalam hidupnya mampu mengejar dua bentuk kebahagiaan tersebut dan berusaha menghindar dari penderitaan azab baik lahir maupun batin serta menemukan arti bahagia dalam Al-Qur’an.[]



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *