Persahabatan Nabi Muhammad dengan Raja Kristen

  • Whatsapp
Persahabatan Nabi Muhammad dengan Raja Kristen | Bincang Syariah


Bincang.Syariah.Com— Relasi Islam dan non muslim sudah terjalin cukup lama. Sejak awal Islam muncul, Rasulullah sudah membina hubungan baik dengan kalangan non muslim. Buktinya, pada era awal Islam, Nabi Muhammad mengutus diplomat unggul ke negeri abyssinia (Ethiophia). Rasul juga sempat meminta suaka politik pada raja Negus yang beragama Kristen. Suaka itu untuk menyelamatkan nyawa beberapa orang sahabat nabi dari kekejaman kaum pagan Quraisy, Mekah.

Read More

Pelbagai jenis siksaan menimpa sahabat  yang masuk Islam di Mekah. Umpatan dan makian dilontarkan kepada  mereka yang memutuskan  memeluk Islam. Terlebih bagi mereka dari kalangan kaum miskin dan budak, maka kejamnya cambuk dan hinaan  selalu menimpa mereka saban hari.

Melihat penderitaan mereka yang kian hari kian menjadi-jadi, Rasul punya inisiatif. Ia menjalin politik luar negeri. Ia mengutus beberapa sahabat ke negeri Abyssina. Memohon suaka politik. Raja Negus, adalah seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Di negeri itu , kebebasan agama akan terjamin dan setiap orang bebas memeluk keyakinanannya.

Yang menarik, negeri tempat migrasi kaum muslimin itu dipimpin seorang raja yang Kristen. Meski Kristen, ia seorang yang taat dan adil. Tak pandang bulu. Kemasyhuran namanya santer terdengar Rasul. Itulah yang membuat Rasul menyuruh kaum muslimin ke sana meminta perlindungan.

Rasulullah tak memandang agama raja Negus. Ia tahu raja itu beragama kristen. Nabi juga paham, raja Negus seorang pemimpin yang kafir. Nabi juga memahami, raja Negus belum masuk Islam. Nabi tak mempermasalahkan itu semua. Beliau  paham betul, Negus seorang raja yang bijaksana.

Menari untuk diteliti, Nabi mengutus sahabat —yang notabenenya baru masuk Islam—, mungkin saja tauhidnya masih rapuh. Di sisi lain, Nabi juga mengirim anak kandungnya, Ruqayyah dan menantunya, Utsman bin Affan. Ia menyerahkan orang terkasihnya untuk dipimpin dan dilindungi oleh seorang raja Kristen.

Marthin Lings dalam dalam buku Muhammad; His Life Based on the Earlist Sources menulis para pengungsi itu disambut dengan baik di Abyssina. Para sahabat itu diberikan kebebesan penuh dalam beribadah. Pengungsi ini sekitar 80 orang, selain anak-anak kecil—mereka datang tidak bersamaan. Sengaja di buat dalam pelbagai kelompok, agar tak dihalangi oleh kaum pagan Mekah.

Adalah Ja’far diutus Nabi sebagai diplomat. Ia bertugas untuk menyampaikan pelbagai pesan yang dibawa Rasul. Ja’far adalah sosok yang pintar. Fasih dalam bicara. Kepribadiannya paling unggul. “Engkau mirip dengan ku dalam penampilan dan karakter,” kata Nabi mengambarkan sosok Ja’far.

Utsman dan Ruqayyah—anak dan menantu Nabi—, juga sebagai perwakilan beliau. Pada sisi lain, keduanya untuk membuat senang hati sahabat yang lain di pengasingan. Agar mereka tak putus asa.

Ada satu sosok lagi, yang dicatat oleh Marthin Lings—perannya juga sangat vital—, bernama Syammas. Ia seorang pemuda dari Bani Makhzum. Syammas itu yang berarti “petugas gereja Kristen”. Ia juga menjadi juru bicara membantu Ja’far dalam berdiplomasi.

Kebaikan hati raja Negus yang Kristen, membuat nabi menghormatinya hingga akhir hayatnya. Pun ketika ia telah tiada, Nabi meminta para sahabat untuk menshalat ghaibkan raja yang baik hati itu. Nabi bersabda;

إنَّ أَخًا لكُم قدْ ماتَ، فَقوموا فَصلُّوا عليهِ،

Artinya: sesungguhnya saudara mu telah wafat, maka bangkitlah dan segera shalatkan (shalat ghaib).

صَلاةُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم عَلى النَّجاشيِّ صَلاةَ الغائبِ

Artinya: Nabi Muhammad menshalatkan raja Najjasyi dengan shalat ghaib.

Demikian kisah persahabatan Nabi Muhammad dengan raja Negus yang beragama kristen. Semoga kisah ini membuat kita memahami, bahwa perbedaan agama tak membuat kita saling memusuhi dan membenci. (Baca: Sejak Lama Nabi Mencontohkan Toleransi, Ini Penjelasannya)

 

 

 

 

 

 



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *