TanyaSyariah# Benarkah Nabi Pasrah Pada Takdir Ketika Sakit?

  • Whatsapp


BincangSyariah.ComAssalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Read More

Saya mau bertanya, benarkah nabi pasrah pada takdir saat sakit? Mohon penjelasannya, Min.

Waalaikum Salam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara penanya yang budiman. Dalam Islam berobat hukumnya sunat juga dianjurkan oleh syariat Islam. Pun Rasulullah, menyuruh orang yang sakit untuk berobat. Hal ini berdasarkan hadis riwayat oleh Imam Abu Daud:

إن الله تعالى أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فتداووا ولا تداووا بالحرام

Artinya: Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya dan menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan kalian berobat dengan yang haram

Dan juga ada hadis Nabi Muhammad SAW yang lain;

ما أنزل الله عز وجل داء إلا أنزل له دواء علمه من علمه وجهله من جهله

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya

Di samping itu juga ada anjuran berobat dari baginda Nabi Muhammad ;

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

Artinya:  Sejatinya semua penyakit ada obatnya. Maka apabila sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (H.R. Imam Muslim/2204)

Dan Hadis riwayat Imam Bukhori;

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً

Artinya; Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ketika itu juga Allah menurunkan obatnya/penawarnya ( H.R. Imam Bukhari/5354).

Suatu ketika terjadi dialog antara sahabat dan Nabi Muhamad. Sahabat ini terkena penyakit. Ia lantas bertanya kepada baginda Muhammad, apakah ia harus berobat atau apa yang harus dilakukannya. Baginda menyuruh sahabat tersebut berobat.

Berikut hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam At-Turmidzi;

أَلاَ نـَتَدَاوَى قَالَ نـَعَمْ يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّ هَ لمَْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِ فَاءً

Artinya: Apakah kami harus berobat? Lalu Nabi menjawab: “Iya, berobatlah wahai hamba-hamba Allah, karena Allah tidak menciptakan penyakit, kecuali juga menciptakan obatnya,”

Demikian pelbagai hadis Nabi Muhammad yang menganjurkan manusia untuk berobat. Hadis tersebut merupakan hadis yang Shahih. Terdapat pula dalam kitab yang shahih. Artinya; anjuran orang sakit untuk berobat merupakan perintah yang langsung dari Nabi, bukan yang dibuat-buat.

Pun dalam Al-Qur’an terdapat pelbagai ayat yang menganjurkan untuk berobat. Allah berfirman dalam Q. S Yunus ayat 57;

يَا أَيـُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُ مْ وَشِ فَاء لِّمَا فيِ الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحمَْةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Wahai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Ada juga firman Allah adalam Q.S an-Nahl ayat 69;

ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Terkait pasrah pada penyakit dan taqdir Allah, hendaknya kita menyimak kisah yang menarik dan penuh hikmah. Cerita ini terjadi pada Umar bin Khattab. Seorang sahabat terdekat Nabi. Paling mencintai dan dicintai Nabi. Termasuk golongan khalafaur Rasyidin.

Alkisah, suatu waktu Umar dan sahabat lain berkunjung ke negeri Syam (Suriah). Nahas, ketika hendak sampai di Syam, negeri itu tertimpa wabah (Thaun). Penyakit yang menular. Wabah ini pula merengut banyak nyawa manusia.

Mengatahui ada wabah, Umar pun balik arah. Tak jadi masuk ke negeri Syam. Ia mengajak sahabat yang lain untuk kembali ke Madinah. Ia berkata; “Aku berlari dan berpaling dari takdir Allah yang satu, kepada takdir yang lain,” begitu tuturnya.

Ini kata Umar bin Khattab;

نفر من قدر الله إلى قدر الله

Artinya: sesungguhnya aku melarikan  diri dari satu takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain.

Ketika telah sampai di Madinah, rupanya sahabat Abdur Rahman bin Auf mengadukan perbuatan Umar kepada Nabi. Ia sampaikan detail peristiwa tersebut. Dan ia ceritakan juga kelakuan Umar bin Khattab.

Ketika itu Nabi bersabda;

إذا سمعتم به في بلد فلا تقدموا عليه

Artinya; Apabila kamu mendengar suatu negeri tertimpa wabah, maka jangan kamu memasukinya.

Dalam hal ini, nabi membenarkan sikap dan tindakan Umar. Ia tak membiarkan sahabat lain terkena wabah. Tak juga membiarkan mereka meninggal karena wabah thaun yang ganas. Kisah ini mengajarkan pada kita tentang menyikapi takdir dengan benar. Dan mendudukkan perkara takdir ditempatnya.

Menurut Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan bahwa berobat adalah perbuatan yang dianjurkan syariat Islam. Pun berobat bukan berarti tidak tawakal pada Allah. Berobat juga bukan berarti tidak menerima takdir Allah.

Syekh Bin Baz berkata;

ولا يجوز للإنسان أن يقول: أنا أتوكل ولا آكل ولا أشرب ولا أتسبب ولا أبيع ولا أشتري ولا أتعاطى زراعة ولا صناعة ولا غيره.. لا هذا غلط

Artinya: Seseorang tidak boleh berkata: Saya bertawakkal kepada Allah, “tapi saya tidak makan, saya  pun tidak minum, saya tidak membeli kebutuhan, saya tidak berdagang (untuk nafkah), saya tidak membeli, saya tidak terlibat dalam pertanian, tak juga dalam industri atau, tidak ini dan itu…. Ini merupakan pehamanan yang salah.

Justru berobat itu sejatinya adalah bagian dari berobat. Demikian dikatakan oleh Syek Bin Baz. Antara tawakal dan berobat harus seimbang. Tak boleh seseorang hanya tawakkal, tapi tak berikhtiyar. Tak juga dibenarkan seorang hanya berikhtiar, tapi tidak tawakal.

Syek Bin Baz berkata;

فالتداوي أمر مشروع لا بأس به ولا ينافي التوكل

Artinya: Maka berobat, merupakan sesuatu yang disyariatkan, tak ada larangan bagi orang sakit untuk berobat (baca: justru sakit dianjurkan berobat), dan berobat itu bukan berarti tidak tawakal.

Demikian penjelasan terkait benarkah nabi pasrah pada takdir saat sakit?. Ini juga merupakan jawaban dari pertanyaan #TanyaSyariah, benarkah nabi pasrah pada takdir saat sakit?. 

 

.

(Baca:Begini Cara Nabi Berobat Ketika Demam)



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *