Ulama, Caci Maki, dan Fitnah

  • Whatsapp
Mohamad Mochsin


BincangSyariah.Com— Ulama, caci maki, dan fitnah. Itu ibarat api dan asap. Tak terpisahkan. Bahkan terjadi sejak dahulu kala. Ulama-ulam besar yang ahli dalam ilmu agama, sempat menjadi sasaran empuk caci maki dan fitnah.

Read More

Dalam sejarah kita bisa membaca, ulama sekelas, Imam Abu Hanifah saja menjadi korban fitnha yang keji. Ishom Talimah dalam buku Manhaj Fikih Yusuf Al-Qaradhawi menulis bahwa ada beberapa orang yang merendahkan diri Imam Abu Hanifah. Fitnah dan celaan ditujukan pada salah satu Imam empat mazhab itu.

Ibnu Mubarok, ulama semasa beliau dan juga muridnya, menggapi santai fitnah yang menimpa Imam Abu Hanifah. Ia membacakan syair;

“Mereka iri kepada Engkau, saat Allah memuliakan diri Mu #Dengan keutamaan orang-orang yang terpilih#.

Abu Aswad Ad Dauli ahli gramatika Arab, ikut menimpali polemik yang merendahkan diri Abu Hanifah. Ia berkata. “Mereka dengki pada pemuda itu, jika mereka tak mampu menggapai derajatnya. Manusia akan selalu menjadi musuh dan seteru bagi dirinya,”.

Tak hanya ulama, sahabat Nabi yang mulia pun terkena fitnah. Ibnu Abdi Barr dalam kitab Jami’ al Bayan al ilmi wa Fadhlihi menukilkan sebuah kisah terkait fitnah yang diterima oleh Saad bin Abi Waqash. Adapun Saad adalah seorang sahabat Nabi yang taat. Ia mendapat jaminan surga langsung dari Nabi. Saad adalah salah satu dari sepuluh orang sahabat yang mendapat jaminan masuk surga paling awal.

Saad juga termasuk enam orang yang dipilih oleh Umar, sebagai panitia pengangkatan khalifah setelah ia meninggal dunia. Ia juga yang dipercaya untuk memimpin penaklukan ke negeri Persia. Berkat tangan besinya,  Islam dapat merontokkan dinasti Persia yang gagah dan perkasa itu.

Namun, meski begitu, fitnah juga sempat menderanya. Fitnah yang dilayangkan orang yang tak suka pada pribadinya. Adalah Al Kufi yang menghembuskan fitnah itu. “Al Kufi menuding Saad bin Abi Waqqash seorang penguasa yang tak berlaku adil terhadap rakyatnya. Dia tidak melakukan keadilan dalam penyerangan perang,” tulis Ibn Abdil Barr.

Sementara itu, Nabi musa juga pernah mengeluh terhadap hinaan, caci maki dan fitnah yang dilayangkan bani Israel pada dirinya. Musa berkata, sebagaimana dicatat oleh Ishom Talimah dalam buku Al Qardhawi Fakihan , “Wahai Tuhan ku, hentikan lisan orang Israel itu dari menghujat ku secara terus menerus,” kata Musa dalam munajatnya.

Mendengar aduan hambanya, Allah pun memberikan jawaban. Wahyu ini menarik untuk disimak. Allah berkata; “Wahai Musa, bagaimana mungkin aku menghentikan atas diri Mu, sedangkan Aku sendiri tidak melakukan itu untuk diri Ku,” begitu wahyu yang diterima Musa.

Dari pelbagai kisah ini, caci maki, hinaan, fitnah, dan hujatan menimpa para ulama , sahabat , dan Nabi yang mulia. Lebih dari itu terkadang si pendosa dan manusia putus asa menyalahkan Ilahi atas pelbagai nasib yang terima. Allah menjadi sasaran umpatan dan hujatan yang ia katakan.

Menurut Ibnu Abdil Barr, maraknya penghinaan, caci maki, dan fitnah terhadap ulama menjadi ciri khas zaman sekarang. Pasalnya, tidak sedikit orang yang tak berilmu, awam, atau yang lebih rendah ilmunya berani menghina ulama yang tinggi pengetahuan agamanya.

Kita tak akan mempermasalahkankritik, terlebih dalam keilmuwan. Itu suatu yang bagus. Imam Ghazali mengkritik habis para filosof Muslim seperti Ibnu Sina dan Al farabi. Kritik yang tajam. Kemudian, Ibnu Rusyd gantian men-counter terhadap kritikan Al Ghzali. Kritik itu hal lumrah. Tapi tidak dengan caci maki, fitnah dan hinaan.

(Baca: Ulama dalam Perumpamaan Pohon)



Sumber

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *